Feeds:
Pos
Komentar

الإسم

    Tujuan :
    - Mengetahui 9 macam isim, definisi dan contoh-contohnya

Pendahuluan:
Setelah pada pelajaran 1 kita telah mengetahui macam-macam kalimah atau kata dalam bahasa Arab, yaitu Isim, Fi’il dan Huruf, maka sekarang kita akan lebih jauh membahas tentang macam-macam isim. Pembagian isim bisa banyak sekali tergantung ditinjau dari sudut pandang mana. Namun pada kesempatan ini kita akan membagi isim menjadi 9 macam, karena pembagian ini mewakili seluruh jenis isim ditinjau dari perubahan tandanya ketika kita digunakan di dalam kalimat.

  • Macam-macam isim :
    1. الإِسْمُ الْمُفْرَدُ (Isim Mufrod)
    2. الْمُثَنَّى (Mutsanna)
    3. جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ (Jama’ Mudzakkar Salim)
    4. جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ (Jama’ Muannats Salim)
    5. جَمْعُ التَّكْسِيْرِ (Jama’ taksir)
    6. الأَسْمَاءُ الْخَمْسَةُ (Isim-isim yang lima)
    7. الْمَقْصُوْرُ (Isim Maqshur)
    8. الْمَنْقُوْصُ (Isim Mangqush)
    9. الإِسْمُ الَّذِى لايَنْصَرِفُ (Isim yang tidak bisa menerima tanwin)


  • Penjelasan Macam-Macam Isim

  • 1. الإِسْمُ الْمُفْرَدُ (Isim Mufrod)

    الإِسْمُ الْمُفْرَدُ adalah isim yang menunjukkan makna tunggal.
    Contoh :
    بَيْتٌ (baitun) : (sebuah) rumah
    مَجَلَّةٌ (majallatun) : (sebuah) majalah
    وَلَدٌ (waladun) : (seorang) anak


    2. الْمُثَنَّى (Mutsanna)

    الْمُثَنَّى adalah isim yang menunjukkan makna dua. Cara membuatnya adalah dengan menambahkan Alif (ا )dan Nun (ن) atau Ya’ (ي ) dan Nun (ن) pada akhir dari isim mufrod-nya.
    Contoh :

    بَيْتَانِ
    <--- بَيْتٌ(baitaani) atau بَيْتَيْنِ (baitaini) : dua buah rumah

    مَجَلَّتَانِ
    <--- مَجَلَّةٌ (majallataani) atau مَجَلَّتَيْنِ (majallataini) : dua buah majalah

    Jadi ada dua bentuk isim mutsanna, yaitu mustanna yang diakhiri dengan Alif dan Nun dan mutsanna yang diakhiri dengan Ya’ dan Nun. Maknanya sama, perbedaannya nanti ada pada kedudukannya dalam kalimat (secara rinci insya Allah akan dibahas pada pelajaran-pelajaran mendatang). Yang perlu diingat bahwa huruf nun-nya senantiasa berbaris bawah (kasroh) dan huruf sebelum alif atau sebelum ya’ senantiasa berbaris atas (fathah)


    3. جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ (Jama’ Mudzakkar Salim)

    جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ adalah isim yang menunjukkan makna banyak, yakni lebih dari dua dan menunjukkan makna laki-laki. Cara membuatnya adalah dengan menambahkan Wawu (و )dan Nun (ن) atau Ya’ (ي ) dan Nun (ن) pada akhir dari isim mufrod-nya.
    Contoh :
    مُسْلِمُوْنَ <--- مُسْلِمٌ (muslimuuna) atau مُسْلِمِيْنَ (muslimiina) : orang-orang muslim

    كَافِرُوْنَ
    <--- كَافِرٌ(kaafiruuna) atau كَافِرِيْنَ (kaafiriina) : orang-orang kafir

    Jadi isim jama’ mudzakkar salim juga ada dua bentuk, yakni yang diakhiri dengan Wawu dan Nun dan yang diakhiri dengan Ya’ dan Nun yang keduanya memiliki makna yang sama, penggunaannya nanti tergantung kedudukannya di dalam kalimat. Berbeda dengan mutsanna, pada jama’ mudzakkar salim huruf Nun-nya senantiasa berbaris atas (fathah) kemudian huruf sebelum wawu berbaris dhommah dan huruf sebelum ya’ berbaris bawah (kasroh).


    Latihan 1

    1. Ubahlah isim-isim berikut menjadi الْمُثَنَّى (mutsanna) kemudian terjemahkan.
    a. رَسُوْلٌ (Rosuulun) : utusan
    b. نَبِيٌّ (Nabiyyun) : nabi
    c. سَبُّوْرَةٌ (sabbuuratun) : papan tulis
    d. عَالِمٌ (‘aalimun) : orang alim (berilmu)

    2. Ubahlah isim-isim berikut menjadi الإِسْمُ الْمُفْرَدُ
    a. يَدَيْنِ (Yadaini) : dua tangan
    b. بَابَانِ (Baabaani) : dua buah pintu
    c. فَاسِقُوْنَ (faasiquuna) : orang-orang fasiq (biasa melanggar batasan Allah)
    d. كَاذِبِيْنَ (kadzibiina) : para pendusta


    bersambung insya Allah


    =Abu ‘Aisyah=

    2.     الفعل

     

    فعل (Fi’lun)  yang sering disebut “fi’il” dalam ucapan sehari-hari adalah kata yang menunjukkan atas perbuatan atau peristiwa yang terkait dengan waktu atau secara sederhana dalam bahasa Indonesia bermakna “kata kerja”.

     

    Contoh : كتب (kataba): (telah) menulis, قرأ (Qoro’a) : (telah) membaca, يكب (yaktubu) : (sedang) menulis,يقرأ (yaqro’u) : (sedang) membaca,أكتب (uktub): tulislah, إقرأ (iqro’) : bacalah.

     

    Lanjut Baca »

    الكلمة

    Tujuan :
    - Mengetahui makna “kalimah” dalam bahasa Arab serta macam-macamnya

    الكلمة adalah lafadz yang memiliki makna, dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “kata”

    Contoh :
    كتاب (kitaabun) : buku / kitab
    شمس (syamsun) : matahari
    رسول (rasuulun) : utusan / rosul
    يكتب (yaktubu) : menulis
    يعلم (ya’lamu) : mengetahui
    يقرأ (yaqro’u) : membaca
    من (min) : dari
    في (fii) : di / di dalam
    على (‘alaa) : atas / di atas

    الكلمة dalam bahasa arab terbagi menjadi 3 macam:الإسم (al-Ismu), الفعل (al-fi’lu) ,الحرف (al-harfu) Lanjut Baca »

    Dari Anas diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan.” Beliau berkata: “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta.” Lelaki itu menukas: “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?” “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” Ujar beliau (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam”Sunan”-nya dalam kitab “Al-Adab”-92 bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau Hadits No.3998 (V:270) dan dishahihkan ole Al-Albani)
    Lanjut Baca »

    Akhlak Dalam Memelihara Waktu

    Dari Hasan Al-Bashri -Radhiallahu ‘anhu- diriwayatkan bahwa ia berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilang sebagian dirimu.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’ IV:585)

    Diantara ungkapan Hasan lainnya: “Aku pernah bertemu dengan orang-orang di mana masing-masing mereka lebih pelit dalam memelihara umurnya daripada menjaga hartanya.” (“Syarhus Sunnah”, karya Al-Baghawi XIV:225) Lanjut Baca »

    Dari Maimun bin Mihran diriwayatkan bahwa ia berkata: “ada seorang lelaki yang datang menemui Salman (Al-Farisi), lalu berkata kepadanya: “Berikan aku nasihat.” Beliau berkata: “Jangan banyak bicara.” Lelaki itu berkata: “Orang yang hidup di tengah manusia, mana bisa tidak berbicara?” Beliau menanggapi: “Kalaupun Anda hendak berbicara, berbicaralah yang benar, atau diam.” Lelaki itu berkata lagi: “Tolong tambahkan yang lain.” Beliau berkata: “Jangan suka marah.” Lelaki itu berkomentar: Lanjut Baca »

    Akhlak Terhadap Para Ulama

    Dari Muhammad bin Amru, dari Salamah diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas pernah berdiri di sisi Zaid bin Tsabit dan langsung memegang tali kekang tunggangannya. Beliau (Zaid) berkata: “Wahai anak paman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, menjauhlah kamu.” Ia menjawab: “Beginilah yang kami lakukan untuk menghormati para ulama dan senior-senior kami.” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’” II:437) Lanjut Baca »

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.